Jumat, 13 Januari 2017

Google Earth


Google Earth merupakan sebuah program globe virtual yang sebenarnya disebut Earth Viewer dan dibuat oleh Keyhole, Inc.. Program ini memetakan bumi dari superimposisi gambar yang dikumpulkan dari pemetaan satelit, fotografi udara dan globe GIS 3D.

Sejarah

Pada awalnya Google Earth dikenal sebagai Earth Viewer, yang diciptakan oleh sebuah perusahaan bernama Keyhole Inc. pada tahun 2004. Di tahun 2005, Earth Viewer diubah namanya menjadi Google Earth dan sudah bisa dioperasikan pada komputer personal yang menggunakan sistem operasi Windows dan MAC. Pada tanggal 12 Juni 2006 Google Earth untuk sistem operasi Linux dirilis. Google Earth versi terbaru untuk saat ini adalah versi 4 (dirilis 8 Januari 2007).
Spesifikasi Google Earth
  • Resolusi Baseline
- U.S. : 15 m
- Global : secara umum 15 m (beberapa area seperti Amerika Selatan, berada pada resolusi yang sangat rendah).
  • Tipikal resolusi tinggi
- U.S. : 1m, 0.6m, 0.3m, 0.15m
  • Sistem koordinat dan proyeksi
- Sistem koordinat internal dari Google Earth merupakan koordinat geografis pada World Geodetic System 1984 (WGS84).
- Google Earth menampilkan bumi seakan-akan terlihat dari satelit yang sedang mengorbit. Proyeksi yang digunakan untuk efek ini disebut General Perspective. Efek ini mirip dengan proyeksi orthografis.
  • Usia : Biasanya kurang dari 3 tahun. Tanggal pada gambar bisa saja salah. Minimum usia gambar adalah 2 tahun (disebabkan alasan privacy)
  • Versi Google Earth yang terbaru bisa dijalankan di komputer dengan minimum konfigurasi sebagai berikut :
- Pentium 3, 500 MHz
- 128 MB RAM
- 400MB free disk space
- Kecepatan Network : 128 Kbit/sec
- 3D-capable graphics card
- 1024x768, “16-bit High Color” screen
- Windows XP atau Windows 2000 (tidak bekerja pada Windows ME), Linux, Mac OS X

Dalam spesifikasi ini, hal yang paling sering bermasalah adalah insufficient video RAM. Software ini dirancang untuk memperingatkan user jika graphic card tidak men-support Google Earth. Kemudian hal berikutnya yang biasanya bermasalah adalah kecepatan akses internet. Kecuali bagi para pengguna yang cukup sabar menunggu, broadband internet (Cable, DSL, dsb) sangat dibutuhkan. Untuk masalah resolusi, beberapa kota seperti St.Petersburg hanya dapat terlihat sebagian pada resolusi tinggi.

Teknologi yang ada di dalam Google Earth menggunakan teknologi grafis 3D yang fantastis dan sambungan internet untuk menunjukkan pada pengguna bagian lain dari dunia, rumah mereka sendiri atau negara yang selalu ingin ia kunjungi tapi ia selalu tidak bisa.

Terlebih lagi, anda bisa merubah perspektif peta setiap saat jika anda ingin merubah sudut pandang atau untuk melihat gambar lebih realistis. Sebagai tambahan, jika piranti Android anda mengijinkannya, anda bisa melihat gambar 3D dari tempat paling simbolis dari kota - kota yang penting seperti Madris,New York atau New Delhi.

Kegunaan dari Google Earth juga dapat digunakan untuk mencari alamat, GPS, mengetahui tempat-tempat penting di suatu wilayah beserta penjelasan dan foto aslinya, mengetahui cuaca di wilayah tertentu, dan memetakan rute serta mengkalkulasi jarak suatu tempat melalui fitur tools > ruler/GPS.
Selain menelusuri permukaan bumi yang ada di darat, permukaan dasar samudra atau laut pun dapat diketahui dan kita dapat melihat berbagai kenampakan alam yang ada di sana.

Manfaat yang kedua adalah dapat mengetahui keadaan kerak bumi atau lempeng melalui fitur historical imagery yang sudah tersedia dan fitur Earth Seafloor yang dapat diunduh di Earth Gallery .Fitur historical imagery memberikan gambaran permukaan bumi beberapa tahun yang lalu dan sedangkan fitur Earth Seafloor memberi gambaran letak dari beberapa patahan kerak bumi di laut.

Manfaat berikutnya adalah mengetahui topografi beberapa wilayah yang sudah dipetakan melalui fitur Historical Topographic Maps. Tampilan topografi menggambarkan tingkat ketinggian suatu wilayah.
Manfaat yang terakhir adalah mengetahui sumber daya alam panas bumi yang telah dipetakan di sebagian wilayah bumi melalui fitur Geothermal Resource. Melalui fitur ini juga dapat diketahui suhu bumi berdasarkan kedalamannya.
 

Referensi :






Senin, 21 November 2016

Tugas III : Pengantar Telematika



RANCANGAN TATAKELOLA TEKNOLOGI INFORMASI UNTUK PABRIK PUPUK 

Tujuan

Tujuan perusahaan di abad 21 ini, namun investasi penerapan teknologi informasi dalam menunjang proses bisnis suatu perusahaan mempunyai resiko kegagalan yang cukup besar dikarenakan nilai investasi yang menyertainya cukup besar. Untuk itu diperlukan suatu tatakelola teknologi informasi yang komprehensif dan terstruktur dari mulai perancangan sampai pengawasannya. Makalah ini mencoba memberikan suatu usulan model tatakelola teknologi informasi  di sebuah pabrik pupuk yang merupakan salah satu BUMN yang mempunyai nilai strategis dalam menunjang makro ekonomi di Indonesia. Penelitian ini akan melakukan identifikasi profil penerapan TI yang telah ada, kebutuhan model pengelolaan yang disesuaikan dengan sumber daya dan visi misi perusahaan dengan menggunakan standar COBIT. Standar COBIT digunakan karena mempunyai kompromi yang cukup baik dalam keluasan cakupan pengelolaan dan kedetailan proses-prosesnya dibandingkan dengan standar-standar lainnya.

Metodologi Penelitian
 
1. Penentuan Maturity Level Proses TI 

Maturity level yang akan menjadi acuan pengelolaan TI di pabrik pupuk XYZ dapat ditentukan dengan melihat dua faktor sebagai berikut:
1.     Visi, misi, dan tujuan pabrik pupuk XYZ, dapat ditemukan hal penting berupa:
a.      Keinginan pabrik pupuk XYZ menuju perusahaan kelas dunia.
b.     Keinginan pabrik pupuk XYZ untuk menjadi produsen pupuk dan petrokimia yang kompetitif di pasar global.
c.      Keinginan pabrik pupuk XYZ untuk mengem-bangkan jaringan global. 
d.     Keinginan pabrik pupuk XYZ untuk meme-nuhi tuntutan pelanggan.
2.     Hasil Kuesioner Management Awareness, terlihat bahwa ekspektasi manajemen terhadap TI yang dimilikinya sangat tinggi.
Dengan memperhatikan kedua faktor tersebut, dapat disimpulkan bahwa maturity level yang menjadi acuan dalam model pengelolaan TI adalah pada skala 4 (Managed and Measurable). Gambar 2 memperlihatkan posisi maturity level yang ditetapkan dalam penelitian ini dibandingkan dengan maturity level standar. 

2. Penentuan CSF, KGI, dan KPI

 Keadaan awal proses tatakelola teknologi informasi untuk PO1 di pabrik pupuk XYZ dapat diketahui melalui tingkat kematangan proses tersebut.  Di sisi lain terdapat harapan dari pihak manajemen agar proses tatakelola ini dapat mencapai tingkat kematangan 4. Perbedaan antara nilai harapan dan nilai sebenarnya menjadi dasar pengembangan model tatakelola PO1. 



Kebijakan dan Prosedur 

Proses PO1    Kebijakan dan prosedur yang harus disusun untuk proses PO1 secara garis besar merupakan kebijakan dan prosedur yang menjadi endorsement bagi diterapkannya proses perencanaan strategis TI perusahaan. Kebijakan dan prosedur ini harus memastikan terbentuknya suatu mekanisme perencanaan strategis TI perusahaan yang terstruktur, terarah dan adaptive terhadap perubahan yang terjadi. Kebijakan dan prosedur ini pun harus memastikan adanya partisipasi seluruh stakeholder perusahaan, sehingga strategi TI yang disusun mewakili seluruh kepentingan stakeholder perusahaan.
Secara skematis usulan prosedur dan kebijakan tatakelola teknologi informasi untuk PO1. Prosedur dan kebijakan ini dinyatakan dalam dokumen tatakelola yang pelaksanaannya dinyatakan dengan surat keputusan direksi pabrik pupuk XYZ.  
 


Kesimpulan 

Penelitian ini menganalisis potret potensi dan status pengelolaan teknologi informasi di Pabrik Pupuk XYZ, yang kemudian memberikan masukan agar investasi teknologi informasi yang dimilikinya mempunyai model pengelolaan yang berstandar internasional, dan menjadikannya enabler tercapainya tujuan Pabrik Pupuk XYZ yang tercantum dalam visi dan misinya.
Secara umum, ekspektasi manajemen terhadap teknologi informasi yang dimilikinya dalam menunjang proses bisnis perusahaan sangatlah tinggi. Sebanyak 32 proses tatakelola teknologi informasi diharapkan agar dilakukan di Pabrik Pupuk XYZ. Dengan melihat visi, misi, dan tujuan perusahaan yang tercantum dalam master plan TI Pabrik Pupuk XYZ, dapat disimpulkan bahwa pengelolaan TI di Pabrik Pupuk XYZ haruslah mempunyai tingkat kematangan pada skala 4 (manage and measurable).

Daftar Pustaka :


1      David, F. R. 1996. Strategic Management.
Prentice Hall.
2      The IT Governance Institute. 2000. Board Briefing on IT Governance. IT Governance Institute. 
3      The IT Governance Institute. 2000. IT Governance Executive Summary. IT Governance Institute.
4      The IT Governance Institute. 2000. COBIT Mapping (Overview of International IT Guidance), IT Governance Institute. 
5      Bisson, J., 2004. The BS 7799 / ISO 17799 Standard. Akses terakhir 28 Agustus 2004 dari http://www.callio.com.
  Sumber : http://www.e-jurnal.com/2014/09/rancangan-tatakelola-teknologi.html